Selasa, 15 Desember 2015

Wall

Aku melihatnya. Lagi. Setelah sekian lama aku tak melihatnya. Ia terlihat lebih tampan sekarang. Sudah berapa lama aku tidak melihat wajah itu. Senyumnya, dia tersenyum sungguh manis sekarang. Tak sengaja mata kami berpapasan. Dia terlihat terkejut, begitupun aku. Lalu dia berjalan mendekatiku seolah sesuatu tak pernah terjadi pada kita. Aku yakin, dia sudah lupa semua tentangku.
"Hai" Sapanya dengan senyumnya. Aku tertegun beberapa detik sebelum menjawab dengan cepat, merutuki apa yang kupikirkan.
"Hai, long time no see" Balasku tersenyum kembali padanya. Sungguh aku rindu dengannya. Sangat rindu.
"How are you?" Tanyanya membuatku tersentak dari acara memandangi senyumnya.
"I'm okay" jawabku sambil terkekeh, mengurangi kegugupan yang tiba-tiba datang.
"Bagaimana denganmu? Kau pasti sudah bahagia dengan orang lain" Mulut bodoh, kenapa tiba-tiba mengeluarkan kata-kata itu. Aku terdiam setelah mengatakan itu. Mengutuk mulutku yang tidak bisa diajak kompromi. Walau seperti itu, aku berharap ia berkata bahwa ia tidak bisa menemukan seseorang selain aku. Entahlah, aku berharap terlalu tinggi memang.
"Hmm. Ya, aku dan Tania akan melaksanakan pertungangan kami" Jawabnya, tersenyum singkat. Kurasakan banyak pisau tak kasat mata menusuk jantungku. Rasanya sesak. Sebisa mungkin aku menahan air mataku agar tidak jatuh. Dia sudah bahagia. Aku tak berhak mengganggunya lagi.
"Selamat atas pertunanganmu kawan. Akan kuusahakan untuk datang jika kau mengundangku" kupaksakan senyum dan candaan yang kuyakini terlihat seperti senyum tikus terjepit pintu. Aku harus segera pergi, sebelum airmataku jatuh.
"Oh God! Sudah jam lima. Nath, aku harus segera pergi. Bye!" Dengan pura-pura aku melihat arlojiku. Aku segera menaruh beberapa lembar uang dibawah gelas dan segera beranjak. Belum selangkah aku pergi, kurasakan ada yang menarik tanganku. Aku merasa seseorang memelukku. Nathan memelukku. Aku terdiam sebelum membalas pelukannya. Segera kulepas pelukannya saat airmataku mulai mendesak untuk segera keluar. Aku tak sanggup, nath. Aku berlari menuju mobilku di tempat parkir. Memasukinya dan mengunci pintunya. Airmata itu lolos. Aku terisak dengan keras, meremas dadaku kencang. Jangan tinggalkan aku nath. Bisikku dalam hati dan terisak lagi. Aku mencintaimu nath, selalu. Lirihku disela isakanku.

-#-#-#-#-#-#-#-#-#-#-

Aku tak sengaja melihatnya lagi. Ia sedang memandangiku...mungkin? Aku tak yakin, matanya mengarah kearahku namun tatapannya sangat hampa. Dia tersentak saat aku juga melihatnya. Dengan ragu kuhampirinya. Hey, aku ini laki-laki gentle tak mungkin hanya melihat wanita yang sangat berharga bagiku aku pura-pura tak menggubrisnya.
"Hai" Sapaku sambil tersenyum. Senyum penuh rindu.
"Hai, long time no see" Balasnya sambil tersenyum. Senyum itu. Aku merindukannya, sangat merindukannya. Salahkah aku jika merindukannya?
"How are you?" Tanyaku hati-hati. Aku berusaha dengan keras untuk menghalang diriki agar tak segera memeluknya. Aku ingin memeluknya. Membisikkan kata-kata rinduku.
"I'm okay" kekehnya. Sungguh, aku sangat rindu dengan semua yang ada pada dirinya.
"Bagaimana denganmu? Kau pasti sudah bahagia dengan orang lain" aku sedikit dengan perkataannya. Sepertinya dia sudah memiliki penggantiku. Dia sudah bahagia, batinku sedih.
"Hmm. Ya, aku dan Tania akan melangsungkan pertunangan kami" jawabku sekenanya. Aku memang akan bertunangan dengan Tania karen urusan bisnis. Aku melihatnya terkejut, matanya mulai basah. Aku tak tahan dengan itu. Apakah dia masih mengharapkanku? Ingin kurengkuh tubuhnya, menghapus airmatanya.
"Selamat atas pertunanganmu kawan. Akan kuusahakan untuk datang jika kau mengundangku" katanya sambil tersenyum canggung. Berteriaklah Yui, berteriaklah jika kau tak ingin aku bersama yang lain.
"Oh God! Sudah jam lima. Nath, aku harus segera pergi. Bye!" ia meletakkan beberapa uang dibawah gelasnya dan berdiri. Dengan segera aku memeluknya. Aku sudah tak tahan. Kurengkuh badannya. Nyaman sekali. Satu airmata lolos dari mataku mengenai sweaternya. Dia melepas pelukanku dan berlari menuju mobilnya. Kutahan airmataku yang sudah mendesak keluar. Akupun memasuki mobilku dan menangis. Katakan aku cengeng. Memang itu kenyatannya jika sudah menyangkut tentangnya. Aku mencintainya, sangat sangat mencintainya. Kumohon Yui, kembalilah padaku, aku mencintaimu. Bisikku pelan dan terisak lagi.