ANAK BARU
Pagi yang cerah,
bertepatan di depan kelas 9-1 banyak murid yang berbaris karena bel masuk sudah
berbunyi dengan nyaringnya. Mereka pun masuk ke kelas mereka. Bu guru datang
dengan seorang perempuan cantik.
“perkenalkan namamu”
suruh bu guru.
“Annabel Olla Nathasia”
jawab sang murid baru dengan senyuman.
Saat bu guru
bertanya-tanya tentang Annabel, dibarisan paling belakang terlihat tiga murid
tengah mengamati perempuan tersebut.
“Cantik banget” puji
Dhimas, salah satu dari tiga murid itu.
“iya cantik banget
dhim, tapi kok wajahnya pucat ya?” bingung Ihsan yang duduk disamping Dhimas
“mungkin lagi sakit” balas Dhimas acuh.
“iya bener san, kok
pucat ya wajahnya” sambung Awin sambil memperhatikan Annabel.
“Silahkan duduk
disamping Awin” Suara bu guru membuat mereka melihat si anak baru yang berjalan
menuju tempat awin. Si murid baru langsung duduk disamping Awin sambil
tersenyum cantik “Hallo, aku Annabel”
“Hallo, aku Awin ini
Dhimas sama Ihsan” kenal Awin kepada dua temannya.
“Hallo” sapa ihsan garing.
“kamu cantik” puji Dhimas yang membuat Annabel malu. Pelajaran dimulai dengan
khidmat. Sesekali empat murid itu melempar ejekan yang membuat mereka tertawa.
Satu minggu sudah
Annabel bersekolah di SMP N 15, tepatnya di 9-1. Sudah satu minggu pula ketiga
temannya merasakna hal yang aneh, contoh saja mereka berempat sedang berjalan
bersama namun tiba-tiba Annabel menghilang dan masih banyak lagi.
Keanehan itu muncul
lagi saat mereka bertiga, Awin, Dhimas, dan Ihsan berkumpul di kantin untuk
makan. Mereka yang sibuk membicarakan Annabel, tiba-tiba Annabel datang entah
dari mana.
“Kalian lagi bicarain
aku ya?” Tanya Annabel sambil tersenyum
“iya bicarain kamu
cantik” jawab Dhimas sambil tersenyum gila
“halah apaan dhim” sela
Awin sambil menyenggol Dhimas
“gak kok, kita lagi
bahas pr” balas Ihsan sambil tersenyum
Saat sedang mengobrol
tentang pelajaran mereka, tiba-tiba hand phone Awin berbunyi. Awin mengangkat
telfon dari Santy, sepupu Awin yang berada di SMP 1. Santy meminta agar Awin
dan teman-temannya datang menonton pertandingan futsal di SMP 1.
“ke SMP 1? Ayo dateng
aja, lumayan bisa ketemu my princess Santy” balas Ihsan
“heleh, emang Santy mau
sama kamu apa?” cela Dhimas
“kamu mau ikut ga?
Itukan sekolah kamu dulu iyakan?” Tak mempedulikan Dhimas, lalu bertanya kepada
Annabel
“aku gabisa ikut maaf.
Permisi” jawab Annabel singkat lalu segera pergi dari tempatnya meninggalkan
Awin, Dhimas, dan Ihsan yang kebingungan dengan sikapnya dan berencana untuk
bertanya dengan Santy besok minggu.
Minggu pagi SMP 1
sangat ramai karena ada pertandingan futsal antar sekolah yang diadakan di SMP
1. Santy mengajak Awin dan teman-teman untuk duduk dibarisan paling atas agar
mudah keluar dari stadion. Setelah berpikir berulang-ulang, Awin akhirnya
memberanikan diri bertanya tentang Annabel kepada Santy.
“Annabel? Itukan murid
9-4 yang meninggal 2 minggu lalu gara-gara kecelakaan” jawab Santy dengan
serius
“kamu ga bohong kan
san?” Awin memastikan pendengarannya agar tak salah dengar, begitupula dengan
Dhimas dan Ihsan
“iyalah, ini nyangkut
nyawa masa aku bohong. Emang kenapa? Kalian kenal? jasadnya aja belum
ditemukan” jawab Santy dengan wajah merinding membuat ketiga sahabat itu saling
bertatapan sebelum berpamitan ke toilet.
Saat tiba di toilet
mereka langsung membicarakan tentang apa yang mereka dengar. Tiba-tiba dari
arah belakang Ihsan, Dhimas melihat Annabel dengan wajah yang lebih pucat dari
saat pertama kali bertemu.
“kenapa
kamu kaya gini?” Tanya Awin dengan ketakutan
“aku rindu
SMP ku” balas Annabel. Awin, Dhimas dan Ihsan menatap tak percaya wajah Annabel
yang tiba-tiba berubah mengerikan. Disaat yang sama, Santy datang dengan
membawa empat minuman ringan untuk mereka. Santy yang melihat Annabel langsung
terkejut karena melihat Annabel yang dikabarkan sudah meninggal dan jasadnya
belum ditemukan itu.
Saat sedang
terlarut dengan keterkejutannya, Hand phone Santy berdering. Santy dengan
segera membuka pesan dan menatap tak percaya layar hand phonenya. “Teman
teman jasad Annabell telah ditemukan,
mohon doa teman-teman agar Annabell dapat tenang disisi-Nya” guman Santy dengan suara yang keras.
“Aku harus
pergi” lirih Annabel lalu langsung menghilang seiring dengan hembusan angin
yang berada disekitar mereka.
“semoga
tenang disana” ucap Santy sambil melanbaikan tangan.
“aku masih
merinding dengan apa yang terjadi” ucap Ihsan pelan
“jadi benar
dugaanku kan san” tuding Dhimas yang hanya dibalas dengan anggukan malas dari
Ihsan.
Akhirnya
mereka kembali menonton pertandingan futsal dengan seru dan setuju untuk menjadikan
kejadian ini sebagai pengalaman yang tak pernah terlupakan.