Rabu, 26 Februari 2014

Anak Baru || cerpen horror




ANAK BARU

Pagi yang cerah, bertepatan di depan kelas 9-1 banyak murid yang berbaris karena bel masuk sudah berbunyi dengan nyaringnya. Mereka pun masuk ke kelas mereka. Bu guru datang dengan seorang perempuan cantik.
“perkenalkan namamu” suruh bu guru.
“Annabel Olla Nathasia” jawab sang murid baru dengan senyuman.
Saat bu guru bertanya-tanya tentang Annabel, dibarisan paling belakang terlihat tiga murid tengah mengamati perempuan tersebut.
“Cantik banget” puji Dhimas, salah satu dari tiga murid itu.
“iya cantik banget dhim, tapi kok wajahnya pucat ya?” bingung Ihsan yang duduk disamping Dhimas
 “mungkin lagi sakit” balas Dhimas acuh.
“iya bener san, kok pucat ya wajahnya” sambung Awin sambil memperhatikan Annabel.
“Silahkan duduk disamping Awin” Suara bu guru membuat mereka melihat si anak baru yang berjalan menuju tempat awin. Si murid baru langsung duduk disamping Awin sambil tersenyum cantik “Hallo, aku Annabel”
“Hallo, aku Awin ini Dhimas sama Ihsan” kenal Awin kepada dua temannya.
“Hallo” sapa ihsan garing. “kamu cantik” puji Dhimas yang membuat Annabel malu. Pelajaran dimulai dengan khidmat. Sesekali empat murid itu melempar ejekan yang membuat mereka tertawa.
Satu minggu sudah Annabel bersekolah di SMP N 15, tepatnya di 9-1. Sudah satu minggu pula ketiga temannya merasakna hal yang aneh, contoh saja mereka berempat sedang berjalan bersama namun tiba-tiba Annabel menghilang dan masih banyak lagi.
Keanehan itu muncul lagi saat mereka bertiga, Awin, Dhimas, dan Ihsan berkumpul di kantin untuk makan. Mereka yang sibuk membicarakan Annabel, tiba-tiba Annabel datang entah dari mana.
“Kalian lagi bicarain aku ya?” Tanya Annabel sambil tersenyum
“iya bicarain kamu cantik” jawab Dhimas sambil tersenyum gila
“halah apaan dhim” sela Awin sambil menyenggol Dhimas
“gak kok, kita lagi bahas pr” balas Ihsan sambil tersenyum
Saat sedang mengobrol tentang pelajaran mereka, tiba-tiba hand phone Awin berbunyi. Awin mengangkat telfon dari Santy, sepupu Awin yang berada di SMP 1. Santy meminta agar Awin dan teman-temannya datang menonton pertandingan futsal di SMP 1.
“ke SMP 1? Ayo dateng aja, lumayan bisa ketemu my princess Santy” balas Ihsan
“heleh, emang Santy mau sama kamu apa?” cela Dhimas
“kamu mau ikut ga? Itukan sekolah kamu dulu iyakan?” Tak mempedulikan Dhimas, lalu bertanya kepada Annabel
“aku gabisa ikut maaf. Permisi” jawab Annabel singkat lalu segera pergi dari tempatnya meninggalkan Awin, Dhimas, dan Ihsan yang kebingungan dengan sikapnya dan berencana untuk bertanya dengan Santy besok minggu.
Minggu pagi SMP 1 sangat ramai karena ada pertandingan futsal antar sekolah yang diadakan di SMP 1. Santy mengajak Awin dan teman-teman untuk duduk dibarisan paling atas agar mudah keluar dari stadion. Setelah berpikir berulang-ulang, Awin akhirnya memberanikan diri bertanya tentang Annabel kepada Santy.
“Annabel? Itukan murid 9-4 yang meninggal 2 minggu lalu gara-gara kecelakaan” jawab Santy dengan serius
“kamu ga bohong kan san?” Awin memastikan pendengarannya agar tak salah dengar, begitupula dengan Dhimas dan Ihsan
“iyalah, ini nyangkut nyawa masa aku bohong. Emang kenapa? Kalian kenal? jasadnya aja belum ditemukan” jawab Santy dengan wajah merinding membuat ketiga sahabat itu saling bertatapan sebelum berpamitan ke toilet.
Saat tiba di toilet mereka langsung membicarakan tentang apa yang mereka dengar. Tiba-tiba dari arah belakang Ihsan, Dhimas melihat Annabel dengan wajah yang lebih pucat dari saat pertama kali bertemu.
“kenapa kamu kaya gini?” Tanya Awin dengan ketakutan
“aku rindu SMP ku” balas Annabel. Awin, Dhimas dan Ihsan menatap tak percaya wajah Annabel yang tiba-tiba berubah mengerikan. Disaat yang sama, Santy datang dengan membawa empat minuman ringan untuk mereka. Santy yang melihat Annabel langsung terkejut karena melihat Annabel yang dikabarkan sudah meninggal dan jasadnya belum ditemukan itu.
Saat sedang terlarut dengan keterkejutannya, Hand phone Santy berdering. Santy dengan segera membuka pesan dan menatap tak percaya layar hand phonenya. “Teman teman  jasad Annabell telah ditemukan, mohon doa teman-teman agar Annabell dapat tenang disisi-Nya” guman Santy dengan suara yang keras.
“Aku harus pergi” lirih Annabel lalu langsung menghilang seiring dengan hembusan angin yang berada disekitar mereka.
“semoga tenang disana” ucap Santy sambil melanbaikan tangan.
“aku masih merinding dengan apa yang terjadi” ucap Ihsan pelan
“jadi benar dugaanku kan san” tuding Dhimas yang hanya dibalas dengan anggukan malas dari Ihsan.
Akhirnya mereka kembali menonton pertandingan futsal dengan seru dan setuju untuk menjadikan kejadian ini sebagai pengalaman yang tak pernah terlupakan.